Odd Couple Chronicle

Masa Kecil Yang Mirip : Hidup di Kampung November 11, 2005

Filed under: Family & Friends,Pictures — ambar @ 11:05 am

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mark kecil suka berpindah-pindah. Alasan utama karena sang ayah, Gordon adalah insinyur yang beralih kerja. Walau akhirnya terdampar di Weymouth UK tapi Mark terakhir tinggal dengan orangtuanya di Wales sebelum keluar rumah memulai kuliah di University of Reading. Rumah di Wales meninggalkan banyak kenangan baginya karena disinilah ia belajar dari memerah susu, memberi makan ayam dan kambing, memasak, memelihara kuda, bongkar pasang mobil, mengendarai traktor hingga membuat bom.

Yes ! dia ini sangat usil dan menyukai eksperiment. Di attic rumahnya yang besar itulah ia membuat homemade bom dari bahan-bahan yang didapatnya dari peternakaan. Seperti pupuk dan bahan yang gampang diperolehnya. Kegiatan lain adalah mengendarai traktor untuk membantu mengerjakan ladang. Ia belajar nyetir traktor sejak usia10 tahun !!!! Sedang ayahnya dengan senang hati mengajarkan pengetahuan mesin. Yang paling diingatnya adalah kewajiban bangun pagi pukul 7 untuk memberi makan ayam dan binatang lainnya. Walau tinggal di peternakan, sang ayah tetap bekerja sebagai Engineer sekitar 50 miles dari rumah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ambar kecil juga suka pindah rumah. Alasannya karena sang Ayah ngontrak rumah sampai 6 kali di wilayah Wonosari sendiri. Yang paling diingat adalah di daerah Kranon, Jeruksari, hingga Pandansari. Maklum pasangan muda anak satu yang baru memulai hidup baru jauh dari orang tua. Rumah di Jeruksari agak terpencil dan dekat dengan ladang ketela. Jadi kalau yang punya sedang panen biasanya Ambar kecil diajak bakar ketela di ladang sembari duduk di bawah pohon nangka. Di Jeruksari ini juga Ambar pernah ketabrak sepeda motor ketika menyeberang jalan. Untung cuma belar-belur, tapi ini bukti si Ambar ngga bisa diem.

Foto ini diambil ketika ultah ke 5 di TK. Waktu itu ibu membuat snack kecil2 dan dibagikan ke teman-teman. Masa TK ini juga terbilang indah walau Ambar paling kecil di klasnya. Satu karakter yang mulai timbul adalah sikap kerasnya terhadap anak laki2 yang suka menggangu kucirnya. Setiap libur sekolah Ambar selalu ke rumah neneknya di Magetan. Lokasi yang sejuk di kaki gunung Lawu dan dialiri beberapa sungai membuat betah. Nenek Buyut-nya lah yang mengajarkan beternak. Biasanya diberi seekor ayam ditinggal di kandang untuk dikembang-biakkan. Kalau Lebaran datang ayam yang malang itu disembelih untuk hidangan opor.

Magetan terkenal sebagai kota kerajinan kulit. Di sela bermain, Ambar selalu diajak ke bengkel kult sang kakek untuk melihat cara membuat sadel sepeda atau sandal selop. Aktivitas lainnya yang sangat digemari adalah mandi di sungai. Walau tidak bisa berenang tapi bercibang-cibung bareng anak2 kampung adalah kebahagiaan tersendiri.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s