Odd Couple Chronicle

Suap dan Korupsi : renungan pulang kampung April 22, 2005

Filed under: Uncategorized — ambar @ 6:32 pm

Minggu lalu aku balik kampung. Nengok simbah putri yang kena stroke sekalian nyekar mbah kakung yang meninggal di minggu yang sama. Aku ngga akan cerita tentang Mulyana W Kusumah dan 150 juta suap yang menghebohkan. Tapi lebih ke low level suap dan korupsi. Salah satunya di bandara Sukarno Hatta yang seram itu. Kebetulan beberapa hari sebelumnya sempat membaca terbongkarnya kasus pencurian barang elektronik staf LionAir oleh Roy Suryo ( Hi RoyTM ) dan babe wanti-wanti untuk ngga bawa barang berharga. Ok Be!

Berbekal rucksack 85 liter (isi baju dan buku2) dan satu lagi segede daysack 30 liter (isi laptop plus dua kamera) terseok-seok di Cengkareng. Sengaja memang aku panggul saking takutnya. Efeknya jelas banget: beberapa kepala menoleh dengan pandangan memelas. Aduh mba kenapa ngga pake trolley aja. Pura-pura ngga ngaruh. Masuk imigrasi petugas udah cemberut. Mba formulirnya salah, ambil tuh diatas. Bingung aku nengok sana-sini. Curiga. Atas mana? Langit ? jengkel langsung balik nanya konter yang isinya serombongan petugas imigrasi (juga) dan seorang wanita. Semoga naluri kewanitaannya bersedia membantu kaum sesama. Doaku dalam hati.

Doaku mempan (thanks Allah) tapi mengisi form juga diselingi iklan dua orang petugas imigrasi. Kalau mau masuk gampang lho asal ada duitnya. Si mba nyeletuk : sekarang kan semuanya pake duit kan Pak. Iya kalo ngga pake duit ngga jalan. Cuek pura-pura tuli aku nulis form. Emangnya saya mau bayarin kalian. Sorry…aku sudah cukup miskin.

Seorang penyapu lantai menyapa. Mba butuh formulir ya. Saya ada koq, tapi kasih lima rebu dong. Mukanya memelas, hampir saja aku kasih duit. Tapi hoiiii….hang on a minute. Ini form kan gratis kataku. Yah kan saya ngambilin buat mbak. Maap Pak saya udah ada. Seolah de ja vu sepuluh menit sebelumnya masuk toilet, mba cleaner bertanya. Darimana mba? Oh boleh dong saya dikasi duit. Bingung aku ngasih S$2 coin yang bakalan susah dituker. Who cares..

Back to form tadi, akhirnya di depan petugas (lain lagi, cari yang lebih nice) aku lolos. Puih…. jadi ingat tahun lalu di lorong yang sama. Seorang TKI nyerocos ngga keruan. Indikasi jelas : kalo ngga stress juga tekanan kejiwaan. Aku kasian banget, mo nolong aku sendiri strugling. Dan yang jelas aku ngga ngerti nanganin orang beginian. Gave up ..

Salahsatu misiku yang lain adalah bikin SIM. Susahnya babe telanjur bikin KK di Magetan. Jadilah nepotisme lewat PakLik yang jadi lurah untuk membuatkan KTP. Aku tetep bayar sesuai aturan (tau’ soalnya ini babe matters). Nah kamis siang sudah nongkrong di Madiun bagian jalanraya ngurus Klipeng alias uji kelayakan. Di konter cuma minta map biru yang aku dapet dari koperasi. Nunggu lagi diperiksa kesehatan. Cuma dikasih card yang bulet2 warna dan ada angka tersembunyi. 24 eh 7 eh 12 loloss…tapi eng mba bayar 15 rebu ya. Sim salabim aku sehat walafiat tanpa perlu dipegang urat nadi.

Lantas dipanggil untuk ujian tulis. Yang jaga Polwan. Disuruh ngitung matematika dagang. Ada sekitar 20 kolom isi angka dan tugasku nambahin per-angka. Tapi cuma ditulis satu digit doang. Tiap kolom dikasih menitan. Jadi mba Polwan perintah : PINDAH ! then 2 minutes PINDAH !
Ini soal konsentrasi. Jangan dikira gampang. Then seharusnya ujian praktik (ini simulasi kaya videogame ). Tapi seolah bisa membaca kegelisahan aku ia bertanya. Mba dari Magetan ya. Jam segini kalo di Polres sudah mau tutup. Saya buatkan sidik jari sama ujiannya ya (wow dijaman DNA begini masih ada pemalsuan sidik jari..gimana klo Gil Grisom tau ya..). Ehm..Mba bisa nyetir kan. Oh …bisa Pak tapi pernah ketubruk van di bunderan (ini off the record). Ngasih aja lima rebu. Everything is ready. Lengkap cap dan tanda kelulusan. Wehh… blaik..gampang banget. Padahal sebelumnya di Inggris instruktor belum berani nglepasin sebelum aku bisa parkir mundur. Kan nanti bisa belajar sendiri ya …Ho-oh aku manggut tapi sebel juga. In total hari itu aku ngabisin Rp 185 rebu ditodong di konter plus sana sini. Ngga jelas berapa resminya.

Esoknya sudah nongkrong di Polres. Di konter cuma didaptarin. Seorang wanita hamil memanggil, dibawanya aku di belakang. Ongkosnya 220rebu mbak. Aku bolak-balik segepok surat di depan. Tiba2 lengkap dengan sidik jari dan bla bla. Jelas disitu ongkos 75 ribu seperti tertera di konter. Lho koq mahal? Iya soalnya saya buatkan semuanya. Lho saya kan ngga minta. Wah sudah telanjur mba. Kalo mbak ngga mau gimana nih sudah jadi. Aku ngeluarin duit dengan ngga rela. . aku ditodong. Padahal jelas di konter : HINDARI CALO. Calo yang mana?

Di bagian test tertulis aku duduk seperti pesakitan. Disuruh nulis dengan gaya komando seorang polisi. Si bapak melirik KTP. Lho mba ini dosen ya. Dimana mba. Wah nanti saya bisa nitip anak saya…Diberinya aku lembar pertanyaan test tentang ilmu berlalu lintas. Wadowww aku ngga sinau nih. Tapi aku nekad membaca dan mengisi seperti laiknya ulangan. Pak Polisi dengan bangga mengibarkan jawaban tepat di hidungku ! Aku ngga peduli.
Lambat laun si bapak ngga komen apa-apa. Aku cuma bilang : malu pak sama mahasiswa saya. Mosok ujian SIM koq ngrepek. Si bapak polisi ketawa. Aku lulus dengan pas-pasan (kebanyakan lupa isyarat tangan polisi). Tapi aku bangga.

Sepulang dari sana aku sedih. Bukan karena uang, tapi karena baru saja menyadari tingkatan korupsi. Ini belum apa2, yang lainnya pasti lebih dasyat. Satu renungan lagi bahwa korupsi Indonesia adalah dosa berjamaah alias dosa kolektif. Tapi bukan berarti dosa bersama itu lantas menjadi halal. Tetap saja salah.

 

3 Responses to “Suap dan Korupsi : renungan pulang kampung”

  1. ck… gimana yah. dalam kapasitas yang sama dgn dirimu sehingga semua komen cuma berarti penghiburan, hehehhe…

  2. oya, persemaian kemangi blum berhasil nih. hiks… induknya sih masih oke. cuma sedikit kurang bergairah.

  3. Anonymous Says:

    membaca tulisan mbak ambar, tadinya biasa aja, agak tersentil, ketika baca magetan-madiun, hehe ….. kangeennn
    mau pulang lage….:)

    salam kenal, kalo lagi ke madiun, mampir ya…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s