Odd Couple Chronicle

Jomblang-Cokro Caving Trip 2003 February 17, 2005

Filed under: Uncategorized — ambar @ 7:37 am


Java Caving Trip 2003

Date : 11th-12th October 2003
Weather : clear, high humidity
Temperature : very hot 35-37C on top, approx 23C on bottom
Location : Semanu and Ponjong Gunung Kidul , Yogyakarta
How to go : From Yogya with motorcycle/bus to Wonosari then 20 km to Semanu (Jomblang), 15km Ponjong (Cokro)
Tripper : Imam, Aprie, Abe, Sigit, Raymond (from Acintyacunyata Speleological Club = ASC) Ambar , Mark

Caving ini terlaksana atas bantuan kawan2 di ASC yang bersedia menemani di dua caving trip dalam suasana puasa. Pengalaman yang mengesankan dengan banyak canda dan mis-understanding antara british dan indonesian.

Dua gua diatas direkomendasikan Mas Sunu Wijanarko (yang njagain Subterra Community-Komunitas Caver Indonesia) dengan asumsi tidak terlalu banjir di awal musim hujan. Keduanya mempunyai karakteristik yang berbeda. Jomblang adalah gua dengan entrance mahabesar (dalam 100 m , 60 bentang). Jomblang mempunyai sejarah hitam di masa lalu sebagai tempat pembantaian dan pembuangan tersangka PKI. Cokro entrance sangat kecil namun menuju kubah besar di dasarnya. Cokro lebih cantik dalam ornament dan kaya akan binatang liar.

Kami mengawali Jomblang sekitar pukul 10.30 di tengah terik batuan karst di sekitar lokasi. Imam, Aprie, Abe dan Ray memulai set anchor dan rigging. Diperlukan hampir 1.5 jam untuk set hingga saya siap turun. Anchor dikaitkan dengan pohon jati sekitar ladang yang merupakan freehang sampai dasar kira2 40m. Pada awal 3m rope statik yang dipakai mengantar ke rebelay yang lantas harus memindah rack ke rope elastik. Seterusnya dengan mulus turun,sekitar 15 m sebelum sampai terdapat sambungan tali yang musti dilalui. Karena belum pernah memakai teknik ini saya sempat disimulasi oleh Sigit dan Mark di pohon jati !!!!

Sampai di bawah disadari bahwa rack saya (special abseling tool for caving) panasnya mungkin hampir 200C saking panjangnya tali dan suhu sekitar. Pemandangan disini amat meneduhkan. Semacam hutan tropis yang kaya akan tumbuhan. Kami menemukan pohon dengan buah merah di batangnya. Sudah kami tanyakan ke penduduk sekitar tidak ada yang tahu nama dan jenisnya.

Sebuah jalan setapak berlumpur menuju pothole lainnya Grubug. Nampak menara dari bambu buatan penduduk untuk mengambil sarang burung walet . Sekitar 15 menit kami sampai di sebuah chamber besar dasar dari Grubug. Jalan berakhir di kepundak batuan dengan air menetes dari dinding gua.

Dibawahnya sekitar 39 meter berlumpur terdapat sungai yang mengalir deras. Satu ujungnya menuju pantai selatan. Menurut kawan ASC sungai ini bisa dilewati dengan perahu hanya pada musim kering, selebihnya mungkin hanya cave diver yang nekad. Sungai ini juga diyakini mengubur ratusan PKI yang hilang tanpa jejak. .Kedalaman total Grubug ke dasar sungai mungkin 125 meter !! Yang pasti airnya cukup hangat untuk menyegarkan tubuh.
Kami memutuskan untuk segera kembali mengejar waktu buka puasa. Tepat Maghrib kami selesai dan meninggalkan lokasi.

Cokro ditempuh dengan sepeda motor dari Wonosari dan tiba di lokasi 1045. Jalanan lumayan menanjak dengan kondisi yang bagus. Cokro terletak di tengah ladang kosong dengan tanda peringatan dari caver setempat. Amon segera setup anchor di pohon jati yang lumayan tinggi. Kelihaiannnya memanjat sangat mengesankan kita. Tak lama anchor dikaitkan dengan string hingga rope jatuh bebas ke lubang. Ukuran lubang sekitar 1.5mX 2.0m menuju kubah dibawah sedalam 17m. Didasanya adalah lapisan tanah solid dengan batuan keras menggunung sebagai pijakan.

Kami segera menuju chamber berikutnya. Di tengah jalan bertemu seekor ular kurus yang tengah tertidur. Perkiraan awal adalah terjatuh ke lubang dan tak ada harapan untuk balik. Perjalanan diteruskan menuju beberapa ruang dengan ornament yang menarik. Diantaranya membentuk spiral ataupun jeruji panjang Tak lama nampak kelelawar yang tengah malas tertidur bergelantungan. Kami juga menemui kelabang gua yang tidak berbisa. Ukurannya sekitar 10cm dengan warna hitam beludru. Bergerak dengan kecepatan sedang tidak punya mekanisma pencahayaan, kemungkinan memakai penciuman. Di akhir chamber terdapat juga burung walet dengan suaranya yang unik. Terbang dengan kecepatan tinggi seperti halnya kelelawar. Sangat sulit membedakan sarang walet dengan kelelawar terutama di dalam cahaya yang minim.

Balik ke titik entrance tapi mengambil sisi lain gua. Yang ditemui adalah ornament yang makin cantik. Abe dkk melakukan sesi photography ketika saya berjuang dengan memory card yang menipis (terpaksa menghapus beberapa gambar). Kami balik ke atas sekitar pukul 13 dan meninggalkan lokasi dengan udara segar sehabis gerimis kecil sebelumnya.
Terima kasih kembali buat kawan ASC, nice to have good laugh with you guys !!!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s